Uang... Mungkin jarang diantara kita memikirkan hakikat uang, mungkin karena terlalu sibuk untuk cari uang, tapi ternyata bila kita sadari uang adalah instrumen pertukaran yang tidak saja untuk dicari tapi harus kembali dipikirkan. Karena kemiskinan yang terstukural pun dimulai dari hakikat uang ini.
Pernahkah kita berpikir, kenapa dollar nilainya harus tinggi daripada rupiah atau dari yen atau dari peso atau dari mata uang lainnya?
Mengapa uang sepuluh ribu yang kita bawa ke amerika bisa berubah jadi satu dollar dan satu dollar bisa menjadi 10000, berarti 10000 : 1 (asumsi kurs rupiah terhadap dollar, sepuluh ribu rupiah) adil ga?
kita punya sepuluh ribu tapi tiba- tiba jadi satu. Bila dipikir secara riil, dari bahannya aja, dua- duanya merupakan benda yang sama- sama terbuat dari kertas, kertas yang terbuat dari kayu. Bahkan kalo dipikir- pikir, mungkin bahan kertas untuk membuat rupiah kualitasnya lebih baik daripada dollar, karena kayu Indonesia lebih berkualitas. Tapi kenapa dollar lebih mahal atau dalam arti nilainya lebih tinggi? Padahal dua- duanya juga hasil print-an bank sentralnya masinbg- masing kan.. tapi tentu saja kapitalis membela diri, dengan coba pelajari dong makro, katanya. Ya...ilmu- ilmu fiktif mereka..yang mereka coba terus sebarkan ke seluruh dunia. sudah menjadi rahasia umum, pertumbuhan ekonomi setiap tahun, tidak serta merta membuat rakyat miskin lebih baik atau berkurang tapi tetap bahkan bertambah. Instrumen cacatlah yang dipakai untuk mengukurnya.
Balik lagi...Dan coba pikir orang kaya Indonesia datang ke Amrik jadi orang biasa- biasa aja karena 10 ribu ditukar dengan satu. dan sebaliknya orang Amrikyang biasa- biasa aja datang ke indonesia bisa jadi tajir, karena 1 ditukar dengan 10 ribu... FAIR? jelas enggak..
Dengan gampangnya mereka menukar dolar kertas mereka dengan sumber daya alam Indonesia yang melimpah dengan kertas dollarnya mereka bisa membeli pulau di Indonesia, dengan kertas yang dengan mudah di print oleh the Fed dengan mudah mereka membeli aset- aset BUMN kita, dengan murah mereka membeli barang- barang kita sedangkan kita sebaliknya dengan cucuran keringat tukang becak, tukang sayur, dan para petnai serta pedagang kecil kita membeli mahal segala peralatan elektronik atau bahan- bahan pokok, misalnya minyak yang harganya mengikuti 'standar internasional', petrodollar.. (bersambung....)